Review Film Man in Love (2021): Cinta yang Tumbuh dari Kehidupan yang Keras

Man in Love adalah film romantis asal Taiwan yang dirilis pada tahun 2021 dan tersedia di Netflix. Film ini dibintangi oleh Roy Chiu sebagai A-Cheng dan Ann Hsu sebagai Wu Hao-Ting. Berbeda dari film romantis pada umumnya, Man in Love menawarkan kisah cinta yang lahir dari situasi hidup yang keras dan penuh keterbatasan. Film ini tidak menampilkan romansa yang indah sejak awal, melainkan cinta yang tumbuh perlahan di tengah masalah ekonomi, keluarga, dan emosi yang belum selesai.

Cerita berfokus pada A-Cheng, seorang penagih utang (debt collector) yang dikenal kasar, cuek, dan hidup tanpa tujuan yang jelas. Pekerjaannya membuatnya sering terlihat dingin dan tidak peduli pada perasaan orang lain. Namun di balik penampilannya yang keras, A-Cheng sebenarnya memiliki hati yang lembut dan rasa empati yang jarang ia tunjukkan. Hidupnya mulai berubah ketika ia bertemu dengan Wu Hao-Ting, seorang perempuan pendiam yang sedang berjuang menghidupi ayahnya yang sakit parah.

Pertemuan mereka bermula dari urusan utang. Hao-Ting kesulitan membayar biaya pengobatan ayahnya dan terjebak dalam tekanan finansial. A-Cheng, yang biasanya hanya fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba tertarik pada Hao-Ting. Ketertarikan ini membuatnya menawarkan kesepakatan yang tidak biasa: ia akan mengurangi utang Hao-Ting jika perempuan itu mau menghabiskan waktu dengannya. Awalnya, hubungan ini terasa canggung dan tidak seimbang, bahkan bisa terlihat bermasalah. Namun seiring waktu, interaksi mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih tulus.

Salah satu kekuatan utama Man in Love terletak pada perkembangan karakter. A-Cheng bukan tipe tokoh pria romantis yang sempurna. Ia impulsif, keras kepala, dan sering mengekspresikan perasaannya dengan cara yang salah. Namun justru dari ketidaksempurnaan inilah penonton bisa melihat perubahan emosionalnya. Cintanya pada Hao-Ting perlahan mengubah cara pandangnya tentang hidup, tanggung jawab, dan masa depan.

Hao-Ting sendiri digambarkan sebagai sosok yang realistis dan tertutup. Ia tidak langsung menerima A-Cheng dan sering menjaga jarak. Hal ini membuat karakternya terasa manusiawi, bukan tokoh perempuan yang langsung jatuh cinta begitu saja. Beban merawat ayah yang sakit dan tekanan ekonomi membuatnya sulit memikirkan perasaan sendiri. Dinamika antara kedua karakter ini terasa pelan, pahit, namun jujur.

Dari segi cerita, Man in Love mengusung tema cinta dan pengorbanan. Film ini menunjukkan bahwa cinta tidak selalu datang dalam kondisi ideal. Kadang cinta muncul ketika seseorang berada di titik terendah hidupnya. Hubungan A-Cheng dan Hao-Ting bukan tentang kemewahan atau janji manis, melainkan tentang kehadiran, perhatian kecil, dan keberanian untuk peduli pada orang lain.

Secara emosional, film ini cukup berat. Banyak adegan yang menyentuh dan membuat penonton merasa sesak, terutama yang berkaitan dengan hubungan keluarga dan penyakit. Alurnya berjalan perlahan, memberi ruang bagi penonton untuk memahami perasaan setiap karakter. Musik dan sinematografinya sederhana, namun mendukung suasana melankolis yang ingin disampaikan.

Namun, film ini juga tidak lepas dari kritik. Di bagian awal, pendekatan A-Cheng kepada Hao-Ting bisa terasa tidak nyaman bagi sebagian penonton karena terlihat memaksa. Meskipun konteks cerita menjelaskan niatnya yang perlahan berubah menjadi tulus, bagian ini tetap bisa memicu perasaan tidak setuju. Untungnya, film tidak meromantisasi perilaku tersebut secara berlebihan dan lebih menekankan pada pertumbuhan emosional karakter utama.

Akting para pemeran menjadi nilai tambah yang besar. Roy Chiu berhasil membawakan karakter A-Cheng dengan sangat meyakinkan, memperlihatkan transisi dari pria keras menjadi sosok yang lebih lembut dan peduli. Ann Hsu juga tampil kuat sebagai Hao-Ting, menyampaikan emosi dengan ekspresi yang tenang namun dalam. Chemistry keduanya terasa natural dan membuat hubungan mereka terasa nyata.

Secara keseluruhan, Man in Love adalah film romantis yang emosional, pahit-manis, dan membumi. Film ini cocok untuk penonton yang menyukai cerita cinta yang tidak instan, penuh luka, dan menekankan perubahan karakter. Ini bukan film romansa ringan, melainkan kisah tentang dua orang yang belajar mencintai di tengah kerasnya hidup.

Bagi penonton yang siap dengan cerita yang menyentuh dan sedikit menyakitkan secara emosional, Man in Love adalah tontonan yang layak dan berkesan. Film ini mengingatkan kita bahwa cinta tidak selalu datang dengan cara yang indah, tetapi bisa menjadi alasan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.

How to Make Millions Before Grandma Dies

 



How to Make Millions Before Grandma Dies adalah film komedi-drama Thailand (2024) yang disutradarai oleh Pat Boonnitipat. Naskah film ini ditulis oleh Pat bersama Thodsapon Thiptinnakorn, dan pengembangannya dimulai sejak 2020, dengan beberapa revisi sebelum syuting dimulai di Bangkok, termasuk lokasi seperti Talat Phlu. Film ini diproduksi oleh Jor Kwang Films dan didistribusikan oleh GDH, serta dipuji karena perpaduan cerita yang hangat, komedi halus, dan emosi yang kuat.

Film ini menceritakan tentang M, seorang pemuda yang hidupnya kurang terarah dan memutuskan untuk merawat neneknya yang sakit keras dengan harapan bisa mendapatkan warisan. Awalnya, niat M bersifat egois, tetapi seiring waktu, hubungannya dengan sang nenek berkembang menjadi lebih tulus dan penuh makna. Film ini mengangkat tema keluarga, kasih sayang, penyesalan, dan pertumbuhan diri, dengan perpaduan humor dan emosi yang menyentuh. Meskipun judulnya terdengar tentang uang, ceritanya justru menekankan pentingnya hubungan keluarga dan waktu yang berharga bersama orang tercinta.

Film How to Make Millions Before Grandma Dies (Lahn Mah) meraih banyak prestasi dan pengakuan internasional sejak perilisannya pada 2024. Film ini dipilih sebagai perwakilan resmi Thailand untuk kategori Best International Feature Film di Academy Awards ke-97 dan berhasil masuk shortlist Oscar, sebuah pencapaian besar bagi perfilman Thailand. Dari sisi komersial, film ini mencetak kesuksesan box office besar dan menjadi salah satu film Thailand terlaris tahun 2024, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di berbagai negara Asia seperti Indonesia, Singapura, dan Malaysia, dengan jumlah penonton yang sangat tinggi. Selain itu, film ini mendapatkan respons kritikus dan penonton yang sangat positif, serta menerima beberapa penghargaan dan honorable mention di ajang film internasional berkat cerita yang menyentuh dan akting kuat para pemainnya. Kesuksesan tersebut membuat film ini dikenal luas secara global dan semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu film Asia paling berpengaruh di tahun perilisannya.

Saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton, karena emosi para aktor dapat dengan mudah dirasakan bagi saya sang penonton. Mulai dari alur, storyline, hingga visualisasi film ini dapat diacungi jempol, tidak heran film ini menjadi film terlaris di berbagai negara.


  Review Film Man in Love (2021): Cinta yang Tumbuh dari Kehidupan yang Keras Man in Love adalah film romantis asal Taiwan yang dirilis p...